Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Tuesday, February 7, 2012

Behind the Words: Warna dan Matamu (2012)

Setelah sekian lama ga nulis cerpen, akhirnya bisa nulis lagi. Dan by the way, ini cerpen pertama gw di tahun 2012 ini. =))))
Bisa dibaca disini atau disini.


Gw kepikiran soal mata sejak tahun lalu. 
  • Kebanyakan sih gara-gara kebanyakan baca novel. Di novel-novel itu, somehow, mereka tau banget mata orang yang dia sayang
  • Terus suatu hari pas gw bikin visa, gw ditanya, warna mata gw apa dan gw ga tau pasti warna mata gw apa. Terus setelah gw pikir-pikir, kayaknya gw ga pernah tahu warna mata siapapun. 
  • Dan sejak saat itu, tekad gw bulat (lebai mode on), gw pengen ada orang yang bisa kasi tahu apa warna mata gw secara tepat.

Dari sanalah ide ceritanya muncul. Sayangnya, gw ga tahu gimana plotnya dan bingung gimana berlanjut dari sekedar ide. Untungnya, ide baru dan plot mulai terbentuk jadi satu.
  • Trus suatu hari di kelas membosankan, gw kepikiran buat bikin si cewe sebagai dokter mata. 
  • Trus suatu hari di koridor kampus pas baru mau masuk kelas, kepikiran buat bikin si cowo buta warna. 
  • Trus kemarin-kemarin ini, pas ga bisa tidur, kepikiran buat bikin adegan 'cheesy' pake tes ketajaman mata (tadinya gw kepikiran buat pake hari mata sedunia atau apa itu, tapi kayaknya aneh dan geli banget).


Setelah ide dan plot menjadi satu, sayangnya gw belum punya pengetahuan soal buta warna dan tes ketajaman mata itu.
  • Jadinya, gw tadi ngeliat-liat di internet soal buta warna. Lebih tepatnya sih, gw nyari pake bahasa Inggris (color blindness), berhubung artikel bahasa Indonesia tentang hal ini kayaknya terbatas banget dan gw nemu satu website yang menurut gw oke banget: colblindor. Dan ngomong-ngomong soal buta warna, ternyata buta warna tuh kompleks dan menarik buat diketahui lebih lanjut. 
  • Trus soal Snellen Chart dan Phoropter, gw sama sekali ga tahu namanya sampai beberapa jam yang lalu. Gw nemuin namanya di Wikipedia dan pas gw nyari apa bahasa Indonesianya, ga nemuin sama sekali (mungkin gw kurang niat nyarinya).
  • Trus gw juga tadinya masi nyari nama (berhubung ga kepikiran sama sekali pas mau bikin nama). Nama 'Aella' dan 'Ciro' gw dapet setelah nyari-nyari di Google (keduanya kira-kira artinya angin).


Jujur aja, pas gw mikirin idenya, gw ngerasa itu tuh udah lumayan oke. Sayangnya, gw ngerasa pas semua itu jadi tulisan, kayaknya ga maksimal, kurang dapet feel-nya dan kurang oke kalau dibandingin yang sebelumnya (mungkin karena udah jarang nulis sejak lulus SMA). Tapi di balik semua itu, gw emang kayaknya belum bisa nulis something funny yang bisa ngebuat someone ketawa atau senyum gitu sih. 


Anyway, dari tulisan ini, gw lumayan dapet banyak pengetahuan baru dan teringat sama beberapa hal (mis.: Bokap gw yang juga buta warna, gw yang ga pernah tahu apa nama alat-alat itu meskipun gw udah pake kacamata hampir seumur hidup dan ikut tes mata berkali-kali).


Gw berharap bahwa pembaca cerpen ini bisa nikmatin cerpen ini to the max. =P




=)
SVialli
[22.34]
[2 - 07/02/12]


nb.:
Gw kepikiran bikin 'behind the words' berhubung pengen bikin something kayak 'behind the scene' buat movies. =P

Warna dan Matamu


“Apa warna matamu?”
“…”
“Warna mata siapa yang kau tahu?”
---
Aella duduk, mengernyitkan dahinya melihat proyeksi papan Snellen –bagan penuh huruf yang digunakan untuk mengecek ketajaman mata– yang berada sejauh 6 meter darinya sebelum menatap Ciro penuh kebingungan.
Ciro hanya membalasnya dengan seringai lebar sambil duduk di kursi di samping kanannya sambil memencet-mencet remote control proyektor yang menampilkan proyeksi papan Snellen di depannya.
“Udah siap?” tanya Ciro akhirnya.
Alis Aella terangkat sebelah –ya.., dia memang hanya bisa mengangkat alis sebelah kanannya. “Ga perlu pake Phoropter?” balasnya sambil menunjuk alat aneh yang penuh bermacam lensa dan digunakan sebagai alat ukur untuk resep kacamata.
Ciro menggeleng. “Aku kan ga ngerti pakainya,” jawabnya sambil mendorong Phoropter yang tergantung dekat dengan kepala Aella menjauh ke belakang. “Bahkan aku baru tau kalau ini namanya Pho-apa? Lagian kan kamu dokternya.”
“Phoropter. Trus kenapa aku yang duduk disini?" Aella terlihat makin bingung.
“Duduk aja.” Ciro memposisikan kepala Aella hingga mengarah ke papan. “Udah siap?”
“Siap apa?” tanya Aella lagi.
“Lihat ke depan aja.”
---
Hampir tak ada orang lagi di klinik mata ini. Jam mulai menunjuk angka sembilan dan Aella yang sudah berada disini dari jam delapan pagi tak tahu mengapa dirinya masih berada atau lebih tepatnya– terduduk disini.
Dirinya baru ingin melontarkan tanya lagi ketika Ciro memencet remote control dan proyeksi Snellen di depannya berubah. Matanya terfokus. Menatap papan yang biasanya hanya menampilkan sekumpulan huruf tanpa arti.
‘Seseorang bertanya: Apa warna matamu?’
Aella menoleh lagi. “Lihat sampai selesai. Jangan noleh-noleh terus,” ucap Ciro dengan mata menyipit, berusaha terlihat tegas, membuat Aella menyembur tawa kecil namun berhasil membuatnya kembali menghadap ke depan sebelum Ciro memencet remote control lagi.
‘Hitam? Coklat? Atau kombinasi keduanya mungkin?’
‘Aku tak tahu. Hanya mampu membalas tanyanya dengan banyak tanya.‘
Aella menoleh sekilas. Memaparkan senyum kecil yang mulai terbentuk di sudut bibirnya.
‘Sayangnya, tanyanya meninggalkan gumam di benakku.’
‘Membuatku bertanya tentang warna dan matamu.’
‘Untungnya, tak seperti mataku sendiri, aku mampu menatap dalam matamu.’
Kali ini, Aella menggapai tangan Ciro. Mengaitkan jemari mereka.
‘Hitam itu matamu ketika terpejam.’
‘Putih itu matamu ketika membelalak.’
“Aw!” Ciro menarik tangannya. “Kenapa cubit-cubit?”
Aella hanya menyipitkan matanya. Sudut bibirnya mengancam untuk menyebar senyum.
Ciro tertawa pelan. Meraih tangan Aella lagi.
‘Merah itu matamu ketika kesal.’
‘’Redup’ seperti saat kacamatamu pecah untuk yang kesekian kalinya.‘
‘Kuning itu matamu ketika bercerita.’
‘‘Wah‘ seperti saat dirimu baru pulang praktik kerja lapangan.‘
‘Hijau itu matamu ketika memberi.’
‘’Tenteram’ seperti saat kamu melihat si kakek memakai kacamata barunya.’
‘Lebih dari semua itu, biru itu matamu yang selalu bahagia.‘
‘‘Cerah‘ seperti langit dengan senyum dan tawamu sebagai awan.‘
‘‘Terang‘ seperti malam berhias bulan dan bintang.‘
‘Aku tak tahu berapa banyak gradasi yang dimiliki warna.’
‘Tapi aku tahu pasti bahwa aku ingin melihatnya dari matamu.’
---
Ciro mematikan proyektor. Kata-kata yang berhamburan di papan hilang dalam sekejap.
“Hmm..,” gumam Ciro, mengernyitkan dahinya. “Itu tadi terlalu cheesy ya.”
“Kamu tahu ga?” ucap Aella pelan.
Ciro hanya tersenyum kecil, mengangkat bahunya dan mulai beranjak keluar ruangan sambil menggandeng tangan Aella.
“Itu tadi cheesy banget sih.” Aella tersenyum lebar. “Tapi baru kali ini aku benar-benar tahu warna mataku. Thanks.
Ciro mengecup pelan lesung pipi Aella. “Thanks juga buat bertahan dalam ke-cheesy-an,” balasnya sambil menyeringai.
“Yah.., paling engga, lain kali kalau aku ditanya, aku bisa jawab warna mataku apa.” Senyum Aella makin melebar ketika teringat sesuatu. “Ngomong-ngomong, kamu buta warna kan?”

=)
SVialli
[21.26]
[2 - 07/02/12]

Behind the words: here.