Saturday, December 31, 2011

2012

Selamat Tahun Baru 2012 buat semuanyaaaaaaaa =))))
Happy New Year 2012 to all of us =))))


  • Semoga di tahun yang baru, semuanya makin baru, makin oke, makin hepi, makin lancar, makin 'heboh'.
  • Semoga tahun yang baru bakal penuh sama senyum baru, tawa baru, kebahagiaan baru.
  • Semoga bakal lebih banyak kenangan-kenangan indah yang tercipta dan kalaupun ada hal-hal yang ga 'ngenakin', semua itu bakal berubah jadi hal-hal yang baik.
  • Semoga semua apa yang kita pikirkan, perbuat dan ucapkan selalu hal-hal yang positif.
  • Semoga hati kita bisa makin lebar, dalam dan luas.
  • Yang pasti, all the best buat tahun ini (dan tentu aja, buat tahun-tahun kedepannya). =)))


nb.:
Banyak orang yang ngelakuin hal-hal kayak ngebuat resolusi tahun baru dan semacamnya.
Biasanya sih, gw di momen-momen seperti ini juga menulis resolusi abstrak di otak gw, tapi entah kenapa, sampai saat ini, gw belum kepikiran (mungkin pas tanggal 1 Jan, gw baru bakal mulai ngebuat =P). Bagaimanapun, seperti kata orang, hal-hal bagus yang biasanya ditulis di list resolusi seharusnya bisa dimulai kapan aja tanpa tergantung momen-momen besar seperti ini (meskipun momen-momen kayak gini yang biasanya dijadikan 'starting line' untuk melakukan perubahan yang biasanya terus tertunda).


Selain resolusi, biasanya orang-orang juga mikirin soal hal-hal yang dilakukan untuk terakhir kalinya sebelum tahun yang lama diganti dengan yang baru. Kalau dibandingin sama hal-hal 'heboh' yang dilakuin sama orang-orang lain (terbaca dari twitter etc.), gw cuma kepikiran soal mandi dan cuci rambut terakhir gw di tahun ini. =P


Anyway,
Met tahun baru =)))
All the best




=)
SVialli
[18.47]
[6 - 31/12/11]

Alone (2007) | The Sixth Sense (1999) | Wrong Turn (2003)

Kemarin, dalam rangka detik-detik sebelum tutup tahun, gw dan beberapa temen kumpul bareng di rumah, makan bareng dan tentu aja, nonton film. Dan seperti biasa, film horror/thriller (fyi, gw bukan pengemar dan lebih cenderung ga suka film ber-genre itu).


Film pertama yang ditonton: Alone.
Film ini dari Thailand dan bercerita tentang anak kembar siam. Mereka operasi pemisahan, kembar yang satu meninggal dan ada satu cowo yang disukain sama mereka berdua.
Buat gw sih, ini adalah salah satu bukti bahwa Thailand memang pembuat cerita horror yang  paling oke. Gw suka banget sama konsep ceritanya, gimana penulis nge-twist ceritanya dan ngebuat penonton 'wow' sama apa yang sebenarnya terjadi.
Film ini bener-bener layak tonton


Film kedua yang ditonton: The Sixth Sense.
Gw pengen nonton film ini berhubung dulu ada om gw yang bilang kalau film ini tuh bagus banget dan gw pas denger dia nyeritain juga 'suka' banget sama konsep ceritanya, rasanya oke banget aja. 
Film ini bercerita tentang seorang psikolog anak (Bruce Willis) dan seorang anak yang punya indra ke-enam (gw wondering gimana caranya anak kecil begitu bisa nampilin akting yang oke kayak gitu).
Setelah gw nonton, filmnya ga terlalu serem (hantu-hantunya ga seberapa serem dan ga terlalu ngagetin suaranya) dan gw suka sama ceritanya. Gw rasa, ini salah satu film yang harus ditonton berhubung ceritanya oke banget.


Film terakhir yang ditonton: Wrong Turn.
Film ini nyeritain tentang penghuni gunung yang adalah semacam mutan (ada 3) dan sekelompok manusia yang tersesat. Seperti biasa, si 'monster' berusaha nerkam manusia dan manusia berusaha kabur.
Buat gw, film ini biasa aja, ga ada yang 'spesial' atau 'baru' yang disajikan film ini. Yang gw bingung adalah kenapa film ini bisa punya lanjutan sampai yang ke empat.


Overall, menurut gw, Alone dan The Sixth Sense sudah selayaknya ditonton (paling engga, kalau takut sama film jenis begini, denger ceritanya dari orang lain). Jujur aja, gw ga bisa ngebandingin dua film itu dan bilang kalau salah satunya lebih bagus, berhubung keduanya bagus, mereka berasal dari negara yang beda dan feel-nya beda. Meskipun begitu, bisa dibilang kalau Alone tuh lebih banyak darah dan lebih tegang (berhubung suaranya banyak yang bikin kaget).




=)
SVialli
[19.23]
[6 - 31/12/11]

Friday, December 30, 2011

'rasisme', 'penyamarataan', 'penghargaan' dan 'diskriminasi'

Gw kepikiran buat nulis tentang hal ini (gw ga nulis yang berhubungan dengan politik) gara-gara ada coretan di dalam lift gedung gw yang berbau 'rasisme' dan gw bingung sama orang yang bisa-bisanya nulis sesuatu kayak gitu, apalagi kemungkinan besar, orang ini adalah seorang mahasiswa/i (berhubung gw tinggal di tempat yang diperuntukkan bagi mahasiswa). 

Sebagai seorang Indonesia yang tinggal di Jerman, gw ngerasa kalau gw tuh minoritas banget, karena gw tuh bukan orang yang cerdas/jenius atau semacamnya, karena gw masih 'gagu' kalau ngomong pakai bahasa Jerman, karena gw juga kurang percaya diri dan karena beberapa hal lainnya.
Salah satu alasan lain adalah karena gw orang Asia.

Pernyataan ini bukan berarti bahwa gw ga bangga jadi orang Asia (berhubung gw lumayan bangga menjadi orang Asia) dan juga bukan berarti bahwa gw ga bangga menjadi orang Indonesia (berhubung gw cukup bangga jadi orang Indonesia, meskipun banyak yang cuma mau ngelihat negara gw dari sisi 'negara kelas tiga'). 
Sebelumnya, gw cukup 'sadar diri' untuk ga 'sadar kulit'. Sayangnya, terkadang ada hal-hal yang terjadi yang ngebuat gw 'sadar', hal-hal yang ngebuat gw 'me-'rasis'-kan diri'. 

Meskipun negara Jerman adalah salah satu negara paling maju di dunia dan Berlin adalah ibukotanya, ternyata hal 'nyebelin' berbau 'rasisme' yang cukup sering terjadi dulu pas di Indonesia juga kadang-kadang terjadi disini. Gw Indo-Cina dan seperti biasa, ada aja abang-abang yang kadang manggil-manggil 'Amoi' atau 'Ni hao!' kalau lagi lewat. Kalau disini, mereka (orang Jerman/Afrika/Eropa lainnya) memang cuma sebatas manggil 'Ni hao!'. 

Sayangnya, gw jadi wondering apakah mereka menyamaratakan semua orang Asia dengan orang Cina dan berpikir bahwa semua orang yang berwajah Asia adalah orang Cina. Berhubung Asia adalah benua yang luas dan ga cuma ada Cina di dalamnya, menurut gw sih, pikiran yang kayak gitu sempit banget (mengingat kalau orang berpendidikan ga mungkin manggil orang 'Ni hao!' sembarangan, kemungkinannya sih emang mereka yang kayak gitu memang pikirannya sempit dan pengetahuan geografinya kurang luas). By the way, yang paling ga banget adalah ketika mereka salah ngucapin 'Ni hao!'. 

Di samping semua 'rasisme' yang mengarah ke 'diskriminasi', kalau dilihat di Internet, misalnya di situs-situs kayak 9gag.com, kadang-kadang mereka suka nulis komentar kayak 'Level: Asians' buat hal-hal heboh (yang biasanya di-post atau dibuat oleh orang Asia), yang nunjukin semacam 'penghargaan' buat orang Asia. Selain itu, orang Asia juga 'terkenal' dengan ke-'rajin'-an mereka dalam belajar dan orang tua yang nge-push anaknya buat belajar

Gw jadi wondering apakah mereka menyamaratakan semua orang Asia dengan rajin dan berotak 'cerdas/jenius', mengingat bahwa pada kenyataannya, ga semua orang Asia kayak gitu (bisa dibilang bahwa yang kayak gitu sebenarnya cuma beberapa dan gw termasuk yang bukan kayak gitu). Diluar itu, gw juga wondering apakah itu cuma berlaku di Amerika yang kayaknya lebih bersahabat/friendly sama orang asing dan kurang berlaku di Jerman (berhubung artis Youtube seperti Ryan NigaHiga dan KevJumba yang adalah Asian American terkenal banget).

Lebih dari itu, gw juga wondering apakah 'penghargaan' seperti itu bisa disebut 'penghargaan dalam rasisme'.

Meskipun gw ga gitu suka kalau dibeda-bedakan dalam kategori ras, jujur aja, kadang gw juga berlindung di bawah 'diskriminasi' yang dihasilkan oleh 'rasisme'. Kalau disini (Jerman), menurut apa yang gw rasain, biasanya orang-orang Asia memang 'terkenal' berkat kemampuan mereka buat nyelesaiin soal-soal Matematika. Sayangnya, dibalik itu, mereka juga 'terkenal' buat kemampuan bicara (bahasa Jerman) mereka yang minim. Gw ngebuat hal itu jadi semacam tameng kenapa gw kurang lancar ngomong pake bahasa Jerman.

Selain itu, gw sendiri juga terkadang suka membeda-bedakan orang dalam kategori ras, misalnya: orang Jerman kurang ramah sama orang asing, orang Afrika badannya berbau, orang Eropa (selain Jerman) jago ngomong (bahasa Jerman). 

Intinya sih, gw berharap kalau gw tuh bakal bisa seminim mungkin 'melihat' dan 'menilai' diri gw sendiri ataupun orang lain dari segi ras. Gw berharap bahwa gw bisa 'melihat'  seseorang lebih jauh dari sekedar kulitnya. Bagaimanapun, dibalik tiap senti kulit, kita semua adalah manusia yang memiliki pribadi masing-masing dan layak untuk dihargai


=)
SVialli
[23.53]
[4 - 29/12/11]

Thursday, December 29, 2011

Mission: Impossible - Ghost Protocol (2011) | Sherlock Holmes: A Game of Shadows (2011)

more info:
http://www.imdb.com/title/tt1229238/
http://www.imdb.com/title/tt1515091/


Setelah sekian lama, akhirnya hari Senin kemarin (26.12.2011), gw ke bioskop juga dan nonton dua film. 


Film pertama yang gw tonton: Ghost Protocol.
Sebelum gw nonton, ada yang bilang kalau filmnya ga gitu bagus dan ada yang bilang, oke banget dan masukin nih film ke kategori 'harus ditonton'. Salah satu alasan gw nonton adalah gw menanti-nantikan adegan di Burj Khalifa, Dubai (berhubung katanya, si Tom Cruise maenin adegan ini tanpa stuntman).


Beberapa hal yang menurut gw oke:

  • gadgets yang mereka pake (gw sampe wondering apakah gadgets kayak gitu bener-bener ada);
  • syuting di 4 negara dalam satu film: Canada, India, Russia, Ceko (di filmnya, disebut kalau mereka ada di Budapest, Mumbai, Moskow, Seattle), gw wondering berapa banyak bagian yang pake green screen, berapa besar biaya syutingnya dan terutama, gimana caranya mereka syuting di jalan raya di India yang rame abis;
  • film ini juga ngasih adegan-adegan yang lucu/witty;
  • alurnya jelas (ga kayak In Time yang ga banget buat gw).



Overall, menurut gw sih, film ini cukup menarik buat ditonton, meskipun bisa dibilang kalau film ini ga seru-seru banget (gw ga bisa ngebandingin sama MI yang sebelumnya berhubung otak gw ga menyimpan memori akan itu). 


-------------------------------

Film kedua yang gw tonton: Sherlock Holmes 2.
Gw nonton lagi berhubung gw udah nonton film yang pertamanya (yang sungguh sangat berkesan sekali dan bisa dibilang, gw lebih suka Sherlock Holmes 1 daripada Avatar yang keluarnya pada saat yang bersamaan). Selain itu, gw juga udah lihat trailernya yang oke banget.


Kalau dibandingin sama MI 4, menurut gw, di film ini lebih banyak bertebaran artis-aktor yang enak banget dilihat (Rachel McAdams kayaknya kelihatan lebih cakep daripada di film pertama, Jude Law dan Robert Downey Jr terlihat tetap ganteng dan keren meskipun gw lebih suka dandanan/gaya/muka mereka di film pertama).


Gw suka konsep ceritanya dan cara mereka nyampaiin semua itu lewat film. Satu yang gw suka, gw bukan pembaca serial Sherlock Holmes, tapi gw bisa lumayan ngerti sama alur ceritanya (meskipun gw ga tahu apakah ini film bersangkutan sama bukunya). Berhubung gw sebagai pembaca serial Harry Potter dan Twilight, ngerasa kalau filmnya ga banget dan kurang bisa dimengerti oleh non-pembaca. 
Diluar itu, film ini juga lucu/witty dan bertempo cepat dengan adegan-adegan seru atau mungkin 'ga penting' yang kadang ngebuat bingung tapi akhirnya dijelasin dengan oke banget.
Salah satu yang gw suka banget adalah adegan terakhir dimana si Holmes nyamarin diri di sofanya Watson dengan baju kamuflase yang dia buat sendiri. 


Overall, gw lebih suka film pertamanya (gw memang berkecenderungan untuk hampir selalu suka sama film/buku pertama dari suatu serial), tapi itu bukan berarti kalau film yang ini ga oke, berhubung gw lebih suka nih film daripada MI 4. 
Dan menurut gw, film ini oke banget dan 'harus ditonton'. =P




=)
SVialli
[21.56]
[4 - 29/12/11]

Sunday, December 25, 2011

may all of us have a Merry Great Christmas =)

This may be not so a White Christmas,
a Gray one indeed,
but still, today is the 25th of this year's last month,
today is CHRISTMAS

I may not be a believer,
but still, I believe that no one hates holidays
and Christmas is one of them
and it's great to have festives
especially at the end of the year

There might be hecticness of things,
of choosing what to wear
of which party to attend
of presents to wrap
and maybe, simply of nothing

Whatever it is,
the loveliest of all is to have joy
in every little thing we do,
to put a bright smile in every corner of moments
to give a light despite of gray background
to enjoy the might of this festive day
and bring the spirit on every following day

May all of us always have our smiles attached
and transmit those to others
May all of us have a Merry Great Christmas
and great wonderful years and life ahead


=)
SVialli
[09.36]
[7 - 25/12/11]

nb.: 

"There are no strangers on Christmas Eve." - Adele Comandini
I do hope that there are no strangers at all on each of our days, but yeah, if it's somewhat 'impossible', then it's a great thing to be able to have a day with all people as our friends. 
I love you =) xoxo


=)
SVialli
[09.43]
[7 - 25/12/11]

Friday, December 23, 2011

acara natal pada hari rabu

ruang depan Rotes Rathaus

Meskipun gw udah di Berlin dari tahun lalu, ini pertama kalinya gw ke acara Natal KBRI yang bertempat di Rotes Rathaus, Alexanderplatz (seperti namanya, si Rotes Rathaus berwarna merah; bukan bercat merah, tapi dibangun dari batu bata yang warnanya merah). Acaranya berlangsung pada hari Rabu kemarin (21.12.2011).


Acaranya dimulai sekitar jam 6 sore. Diawali dengan Misa sekitar satu jam, diikuti sama sumbangan acara dari peserta acara dan diakhiri oleh makan malam (sekitar jam 22). Yang dateng ke acara ini kayaknya sekitar 400an orang; tentu aja, kebanyakan orang Indonesia dan diluar itu, ada beberapa orang Jerman atau campuran Jerman-Indonesia.


'Wir sind ein Volk'

Setahu gw sih, Misa pas hari Rabu itu adalah Misa khas Katolik. Berhubung gw disini selalu ke Gereja Karismatik (GBI Berlin), pas ngerasain Misa Katolik gitu dan ngedengerin lagu-lagunya, jadi keinget masa-masa sekolah pas bareng-bareng satu sekolah pergi ke Gereja Stella Maris satu bulan sekali (rasanya jadi kangen masa-masa itu lagi =P).


Yang ngisi acara ada yang masih muda dan ada yang udah cukup berumur; yang adalah anak-anak PPI, perwakilan dari Gereja Indonesia di Berlin, pejabat/pegawai KBRI.
Salah satu yang gw suka adalah pertunjukan musik Angklung. Kalau ga salah ingat, ada dua kelompok yang main Angklung (perwakilan dari salah satu Gereja di Berlin dan kumpulan Ibu-Ibu KBRI).

Rasanya khas Indonesia banget aja dan setahu gw, gw kayaknya belum pernah ngelihat pertunjukan Angklung secara langsung deh. Rasanya heboh aja ngedenger suara kayu yang digoyang bisa sampai se-wow itu




Dan yang lebih oke lagi, kumpulan Ibu-Ibu itu ngebawain lagu 'Tanah Air Beta' dan nyanyi bareng. Rasanya udah lama banget ga nyanyi lagu-lagu kebangsaan kayak gitu dan bisa nyanyiin lagu itu lagi bareng-bareng orang Indonesia yang lain ngebuat gw kangen sama negara asal gw.
Beberapa peserta lainnya ada yang nari, ada yang nyanyi dan ada yang main drama.

Makan malamnya disediain ala prasmanan. Peserta acara disediain nasi, mie goreng, ayam, tauge buncis, jeruk dan kue. 
Kalau menurut gw sih, makanannya ga buruk. Kalau menurut beberapa orang lain yang ke acara Natal KBRI tahun lalu atau beberapa tahun sebelumnya, makanannya ga se-wow yang sebelumnya (katanya sih, dulu ada disiapin sate lilit atau semacamnya begitu).

Selain ngikutin acara dan makan, gw juga ketemu beberapa teman yang udah lama ga gw lihat. Diluar keribetan siap-siap buat 'hari-hari khusus' kayak gitu, rasanya oke banget sih kalau ada acara-acara kayak gini, dimana orang-orang pada kumpul dan bisa ketemuan plus 'ngegosip' bareng (berhubung kadang orang suka 'ga ada waktu' di 'hari-hari biasa').


=)
SVialli
[03.45]
[5 - 23/12/11]

air bersih dan cuci tangan


Hari Senin lalu (19.12.2011), gw ada kuliah jam 1 siang dan seperti biasa, kalau gw kuliah jam segitu, gw bangun dan mandi ga jauh-jauh dari jam segitu. Alhasil, gw bangun jam 10an dan berpikir buat mandi jam 11an. Sayangnya, pas gw mau mandi, ternyata lagi ga ada air, mungkin lagi bersihin pipa atau apa. Seharusnya sih, kalau lagi ga ada air gitu, bakal ada pengumuman di papan di lantai bawah, hari apa dan jam berapa. Sayangnya, gw jarang banget perhatiin papan itu dan gw ga tau kalau bakal ga ada air (untungnya, sekitar sore jam 5, airnya udah ngalir lagi dengan lancar).


Alhasil, berhubung muka gw kucel dan gw perlu keramas dan dll sebelum gw keluar rumah dan  kuliah, gw kaga kuliah hari itu dan membuat resolusi yang selalu gw buat di saat-saat seperti itu tapi (hampir) ga pernah gw lakukan: bangun lebih pagi.

Intinya sih, di hari itu gw merasa 'sengsara banget'. Kenapa?

  • Gw seharusnya masuk pas hari itu, berhubung gw harusnya ikut kerja kelompok selesai kelas, dan karena gw kaga ikut, gw jadi ngerasa ga enak sama temen satu kelompok gw.
  • Gw ngecekin keran air tiap setengah jam sekali, berpikir kalau mungkin airnya bakal segera ngalir lagi dan gw bisa buru-buru cabut buat kuliah, sebelum akhirnya gw menyerah.
  • Gw ga bisa buang air sesuka hati gw, berhubung ga ada air buat nge-flush WC nya. Itu semua berarti, gw harus berjuang menahan kehendak buang air.
  • Gw ga bisa minum sesuka hati gw, berhubung gw minum air keran. Untungnya, masi ada air di termos gw.
  • Berhubung gw kaga bisa mandi (yang berarti gw kaga bisa gosok gigi dan cuci muka), gw merasa lusuh dan kotor
  • Dan satu yang paling menyengsarakan adalah fakta bahwa gw ga bisa cuci tangan!! Gw selama ini ga pernah sadar kalau gw sampe sebegitu seringnya cuci tangan. 


Soal cuci tangan, gw pada hari itu, simpatik banget sama orang-orang di Afrika atau di belah dunia manapun itu yang kekurangan air bersih. Selama ini, kalau baca atau ngelihat berita, rasanya simpatik tapi ga sampai sebegitunya, soalnya gw jarang banget kekurangan air bersih (apalagi selama tinggal di Berlin, yang termasuk salah satu kota yang paling maju di dunia, dimana air bersih yang bisa langsung diminum mengalir langsung dari keran). 

Pas hari itu, gw juga baru ngerasain pentingnya masalah cuci tangan yang suka 'digembar-gemborkan' lewat iklan-iklan tentang kesehatan atau pesan-pesan dari Departemen Kesehatan atau lembaga kesehatan lainnya dan semacamnya. 
Jujur aja, meskipun gw 'cuma' sekitar 7 jam tanpa cuci tangan, gw ngerasa tangan gw kotor banget dan gw ngerasa ragu buat nempelin tangan gw ke muka (meskipun gw cuma megang keyboard, meja, buku, gagang pintu dan hal-hal simpel kayak gitu). Kayaknya tangan tuh gampang banget bersentuhan dengan hal-hal yang 'kotor' dan merupakan awal dari pertemuan tubuh kita dengan 'kotoran'. 

Rasanya agak janggal aja terhadap fakta bahwa gw sering banget kurang memperhatikan pemakaian air gw (berhubung gw ga perlu bayar tagihan air) dan di sisi lain, ada populasi manusia yang harus menghemat air sedemikian rupanya supaya bisa tetap melangsungkan kehidupan. Dan bahkan, air yang mereka punya belum tentu bersih
Gw ngebayangin bahwa meskipun cuci tangan adalah salah satu langkah pertama terhadap hidup sehat dan bersih serta mencegah penyakit, kalau air adalah hal yang langka buat mereka, cuci tangan bakal kurang dipikirkan; berhubung yang penting, mereka bisa ngelanjutin hidup mereka dengan air (kurang dari) secukupnya itu, yang berarti air bakal diprioritaskan untuk minum, masak, ternak

Gw harap sih, gw bisa lebih menghargai air bersih yang bisa gw nikmati dan menghemat pemakaian air gw. Dan gw juga berharap kalau daerah-daerah yang kekurangan air bersih itu bakal dapet bantuan supaya mereka bisa lepas dari kekurangan air bersih (mengingat bahwa teknologi zaman sekarang sudah maju dan mungkin hanya terbatas pada masalah biaya dan biaya dan biaya).


=)
SVialli
[02.51]
[5 - 23/12/11]

Friday, December 16, 2011

first snow of this winter

jalanan becek
Sekitar jam 14.15 hari ini (Jumat, 16.12.2011), akhirnya turun salju juga di Berlin.
Tadinya gw sama temen sekelas gw yang dari Rusia (Elena) baru ngomongin kenapa belum turun salju juga, padahal udah banyak yang bilang kalau minggu-minggu lalu seharusnya udah turun.
Pas gw jalan dari S-Bahn (stasiun) ke rumah, gw harus ngelewatin hujan ditambah angin yang super kencang (untungnya, payung Rossmann gw berhasil bertahan meskipun berhasil kebalik sekali dan terancam terlepas dari pegangan tangan gw yang beku berkali-kali).
Seperti biasa, jalanan penuh sama daun-daun yang rontok dan becek berkat hujan.




Ternyata, sekitar setengah jam setelah gw sampai di rumah, hujan yang turun diganti sama salju (meskipun cuma sebentar).
Anyway, dengan adanya salju, hari Natal jadi lebih terasa dan meskipun gw kurang suka 'kekotoran' dan 'kebecekan' salju, gw rasa, it'll be more beautiful when it's a white Christmas.




=)
SVialli
[21.35]
[5 - 16/12/11]

tinja aka tai aka eek di lantai toilet

Pas hari Kamis kemarin (15.12.2011), kelas gw dari jam 17.15 sampai sekitar jam 20.00. Jadinya, di tengah-tengah pelajaran ada break time, sekitar jam 18.50 sampai jam 19.00. Diantara break time itu, gw pergi ke toilet buat kencing. Dan gw ngelihat ada tinja aka tai aka eek di lantai toilet!!!


Pikiran-pikiran yang terlintas di otak gw: 

  • 'Ewww';
  • 'Geli abis';
  • 'Kok bisa-bisanya di tempat kuliah yang seharusnya berisi manusia-manusia berpendidikan, hal yang kayak gini bisa terjadi???!';
  • 'Kok bisa-bisanya eek dia ada di lantai???!!';
  • 'Apa dia eek sambil berdiri???!!';
  • 'Kenapa dia ga ngambil eek dia pake tissue dan flush ke dalam WC???!';
  • 'Kasian banget yang nanti harus bersihin toilet';
  • 'Hmm.. seriously, apa dia eek sambil berdiri??!!'.


Intinya, gw ngerasa kalau tinja aka tai aka eek ga seharusnya terletak di lantai, karena dia seharusnya berada di lubang WC dan sudah tak terlihat (dengan anggapan bahwa setiap orang sudah seharusnya menekan tombol flush). Dan kalau hal seperti ini terjadi di tempat kuliah, kayaknya moral si pembuang eek perlu dipertanyakan, berhubung hal-hal ga enak dilihat kayak gini ngebuat pikiran yang ngelihat jadi melayang-layang dan membuat orang ngerasa jijik


Semoga hal serupa eek di lantai toilet kayak gini ga bakal terjadi lagi. =P




=)
SVialli
[21.07]
[5 - 16/12/11]

Thursday, December 15, 2011

ujian, nilai dan ilmu

Gw baru pulang sekolah dan tadi satu arah sama temen sekelas gw yang orang Vietnam (Zung - gw ga tau ngejanya gimana). Kita ngomongin soal musim ujian yang sebentar lagi bakal dimulai. Berhubung dia anak semester 2, dia udah pernah ngelewatin masa-masa itu dan mungkin ga se'tegang' gw yang baru semester pertama. 

Ngomong punya ngomong, gw bilang ke dia kalau gw pengen ngerjain semua ujian (7 mata pelajaran) di jadwal ujian yang pertama --di tempat kuliah gw (HTW Berlin), gw bisa milih buat ngambil ujian sebelum atau sesudah liburan atau bisa juga ngulang pelajarannya di dalam dua semester ke depan.

Dari apa yang dia bilang, semester lalu dia kayaknya cuma ngambil empat ujian dan itupun dipisah (dua ujian di jadwal pertama dan sisanya di jadwal kedua). Semester ini kayaknya dia juga bakal ngelakuin hal yang sama. Intinya sih, nilai yang oke tuh prioritas dia dan kalau dia ga ngerti pelajarannya, mendingan ngulang dan nambah satu semester. Ada satu temen gw yang lain (dari Korea, namanya Ji Hae) yang juga kayak dia, anak semester dua juga. 
Terus pas gw bilang soal gw yang mau ngambil semua ujian sekaligus, dia somehow nanya gw, kenapa gw harus ngebebanin diri gw sendiri. 
Dia bilang, di semester lalu, dia punya temen orang Mexico yang ngambil semuanya dan dapet bagus, tapi itu berhubung dia kayaknya emang tipe-tipe jenius gimana gitu. Dulu-dulu juga gw pernah ngomong sama Ji Hae dan dia bilang, beberapa temen dia yang ngambil semuanya, emang beberapa ada yang bisa lulusin semuanya, tapi nilainya jelek dan dia bilang, buat apa lulus tapi nilainya ga enak dilihat kalau diijazah. 

Kenapa gw mau ngambil semuanya sebelum liburan?
Gw kurang yakin kalau gw bakal belajar pas liburan. Lagipula, ada beberapa dosen yang bilang kalau ujian yang di jadwal kedua bakal lebih susah, karena kita punya lebih banyak waktu buat belajar. Itu membuat gw berkesimpulan bahwa belajar dua kali lipat di liburan atau ngambil ujian di jadwal pertama bakal menghasilkan hal yang ga beda jauh.

Kenapa gw 'nekat' ngambil semuanya di semester ini?
Gw tahu kalau ada beberapa pelajaran yang somehow gw sama sekali ga ngerti, tapi gw ga mau ngalamin nightmare yang sama di semester depan. Buat gw pribadi sih, gw mendingan loncat sendiri dari gedung daripada tegang nunggu seseorang dorong gw. Gw ga mau ngerasain deg-degan gila-gilaan dan terror tanpa henti kayak gitu, rasanya ga tenang banget mikirin satu hal terus-terusan. 
Dan selain itu, gw ga mau memperpanjang masa kuliah gw disini (gw kuliah Betriebswirtschaftslehre aka Business Economics, programnya sekitar 7 semester). Gw pengen selesai secepatnya sebisa mungkin. 
Intinya sih, sekarang nilai bukan prioritas gw, meskipun gw juga sebenarnya ga pengen nilai jelek nempel diijazah gw berhubung itu bakal mempengaruhi dimana gw bakal dapet kerja nanti. 


Ngomong-ngomong soal ujian dan nilai, itu ngebuat gw mikirin soal 'ilmu'.
Kalau lulus atau dapet nilai bagus, apa itu ngebuat cukup puas, meskipun sebenarnya kaga ngerti apa yang dipelajari? Apa itu semua cukup tanpa 'ilmu' yang seharusnya jadi inti dari tiap pelajaran? 
Atau dari sisi lain, kalau ga lulus, tapi seseorang benar-benar ngerti apa yang dia pelajari, apa nilai diijazah dia itu bakal jadi 'label' dia?


Dari yang gw rasain sekarang, gw bahkan ga mau mikirin soal nilai atau ilmu. Yang gw tahu adalah gw harus lulus semua ujian dalam rangka selesai kuliah tepat waktu. Entah itu terlalu 'reckless' buat gw atau kaga, seiiring itu, gw punya pengalaman baru dan belajar buat hidup.




=)
SVialli
[21.54]
[4 - 15/12/11]

Tuesday, December 13, 2011

Ace

You're such a grace
One who makes me amaze 
I try to embrace
But you braze yourself
You let me daze
Into your maze
Spinning me in craze
Leading me to trace
Till I find myself deep in grave




=)
SVialli
[19.16]
[2 - 13/12/11]


nb:
I have written it in such a long time ago; wrote it on a piece of paper bill which dated 19.09.11 (September).
I believed that I wrote it that day and planned to continue on the following days, but it happened to be neglected by me until today. And as you may see, there's actually no addition whatsoever (besides the title, of course) and only some rearranging occured. 
And I do love this poem. 




=)
SVialli
[19.29]
[2 - 13/12/11]

pagi dihias bulan, hawa merana dan sejuta alasan

Hari ini (Selasa) gw memulai hari lebih pagi dari hari-hari biasanya berhubung kelas Matematika gw mulai jam 8 pagi. Buka mata ogah-ogahan, nengok keluar jendela, ngelihat bulan purnama masih bersinar terang (!!!), cuma satu pikiran yang nempel di otak gw selama gw siap-siap buat berangkat, 'it must be a crime to wake up when the moon is still so bright and high up in the sky'. 

Pas di subway (U-Bahn Lichtenberg), gw ketemu temen sekelas gw yang dari Vietnam (namanya Giang). Entah sejak kapan (gw pertama kenal dia pas di preparatory course aka Studienkolleg), nih orang kelihatannya tuh selalu diselimuti aura gloomy.
Meskipun kelas dimulai pas hari masih belum terang atau gimana, gw kayaknya ga sampai bad mood atau gimana gitu dan gw selalu berusaha supaya mood gw bagus (paling engga ngasih senyum ke orang yang gw lihat). Pas gw nyapa dia tadi, rasa 'bahagia' gw kayaknya dihembus-hembus sama aura 'merana' dia. Selain pas gw ketemu sama dia, dia di dunia maya kayaknya juga somehow 'nebarin hawa merana'; di Facebook, kalo post dia masuk ke home gw, kayaknya apa yang dia tulis selalu 'bernyawa negativ' berhubung dia kayaknya hampir selalu nutup kalimatnya dengan tanda '=('

Gw pribadi sih jarang banget pake tanda itu. Bisa dibilang hampir ga pernah. Gw harap sih, gw ga perlu sampe 'sesedih' itu buat terus-terusan pake 'tanda murung' kayak gitu. Dan lebih dari itu, gw berharap kalau gw ga bakal pernah jadi orang yang punya aura gloomy, apalagi yang sampai 'nebar-nebarin' itu semua di dunia nyata maupun maya.

Pas pelajaran, seperti biasa, gw kurang ngerti, duduk di deret keempat dengan mata gw yang serasa kebakar berhubung si dosen dengan teganya pake spidol yang udah hampir ga punya tinta dan kacamata gw udah ga bener. 
Di tengah pelajaran, orang di belakang gw (namanya Monique kalo ga salah) noel punggung gw, gw kira mau nanya tulisan di papan yang kaga kebaca. Ternyata dia nanya apa gw udah ga bakal masuk ke kelas Hukum Bisnis lagi (Wirtschaftsrecht). ~.~
Trus gw bilang ke dia kalo gw sebenernya masih harus masuk dan minggu depan gw bakal masuk.

Intinya sih, pertanyaan dy sebenarnya juga sering gw tanyain ke diri gw sendiri, apa gw bakal masuk ke kelas itu lagi kalau akhir-akhir ini aja, gw sering banget ngelewatin tuh kelas? 
Pas awal-awal semester, gw selalu masuk dan gw udah seharusnya masuk berhubung gw sama sekali ga ngerti pelajarannya dan cuma bisa berharap bahwa semua yang si dosen omongin bakal tersimpan di alam bawah sadar gw dan bisa dengan wow berfungsi ketika gw ngerjain ujian
Ironisnya, sekarang gw juga pake alasan yang sama buat ga masuk (udah sekitar 4 kali gw ga masuk). Gw kaga masuk tuh kelas karena gw sama sekali ga ngerti pelajarannya, merasa bahwa ngebaca bukunya lebih berguna daripada duduk di kelas dan ngedengerin sesuatu yang kayaknya ga nyantol sama sekali di otak gw. Sayangnya, gw cuma ngebaca bukunya 'kadang-kadang' yang berarti hampir ga pernah dan gw rasa, itu cuma alasan gw buat lebih cepet pulang ke rumah (kelas ini tuh hari Senin dari jam 17.15 sampe 20.30 dan dosen ini kayaknya ga pernah rela ngebiarin kita pulang lebih cepet).

Satu yang gw sadar tapi ga mau gw 'akui' adalah bahwa gw tuh seharusnya masuk terus (!!!). 
Kenapa? Karena temen sekelas gw yang orang Jerman aja ngerasa kalau pelajaran ini tuh 'sulit dimengerti'. Yang berarti bahwa gw sebagai 'pelajar asing' harusnya belajar minimal dua kali lipat lebih rajin dari mereka berhubung gw kesulitan dalam masalah bahasa juga.
Sayangnya, rasa 'sombong' gw kayaknya suka terlalu tinggi dan ngebuat gw 'malas' buat berusaha


Dan hal lain yang gw sadari, gw somehow agak terpengaruh sama temen sekelas gw yang Vietnam itu (dia juga hampir ga pernah masuk lagi ke kelas ini). Awalnya, gw masih suka bilang kalau harusnya dia masuk, paling engga supaya istilah-istilah hukumnya ga bakal terlalu asing kalau didenger atau pas belajar sendiri. Ternyata, gw malah makan omongan sendiri dengan 'ikut-ikutan' kaga masuk kelas.


Gw rasa, gw harus mulai dengerin omongan gw sendiri dan ngehilangin rasa malas gw. ~.~
Sayangnya, gw kayaknya suka banget merendam diri sendiri dalam rasa santai meskipun ada terror (ujian dan tugas) yang terus-terusan nempel di sudut otak gw. 



=)
SVialli
[14.39]
[2 - 13/12/11]

Sunday, December 11, 2011

2 hours of group work and 3 hours of Glühwein

Baru aja (hari Minggu), gw ketemuan sama temen sekelas (2 cewe n 2 cowo; 3 orang Jerman dan 1 cewe Rusia) gw buat kerja kelompok. Kita ketemuan di Alexanderplatz, di Weltzeituhr (gw ga ngerti kenapa tempat itu yang dijadiin tempat ketemuan berhubung tempat itu rame dan outdoor, yang berarti dingin berhubung sekarang lagi musim dingin, untungnya, bukan cuma gw yang mikir gitu, berhubung yang ngusulin tempat itu juga ngerasa kalau agak aneh buat ngejadiin tempat itu sebagai tempat ketemuan; tapi fakta yang gw lihat selama nunggu disana sekitar 10 menit, banyak banget yang ketemuan disana).
Setelah ketemu, kita pindah dan duduk dengan nyaman dan cukup hangat di Dunkin Donuts. Kita ngomongin soal presentasi dan tugas yang harus kita bikin (pelajaran Personal dan Organisasi), nentuin tema dan semacamnya (dari sekitar jam 16.00 sampe jam 18.00); dan sebagai penutup, kita lanjut ke Weihnachtsmarkt (Christmas Market).

Dan disana, kita minum Glühwein sambil ngobrol-ngobrol.
Kita (gw kebanyakan ngedengerin sih dan cuma nyambung-nyambung dikit atau tanya-tanya dikit) ngobrolin:
  • soal kuliah.
Kenapa pas presentasi ada yang kasi feedback yang negativ terus. Gw kira itu karena ke-direct-an orang Jerman yang sudah terkenal, ternyata pas gw tanya bukannya itu normal, mereka bilang kalau itu tuh ga normal dan sepantasnya caranya ga gitu.
Juga soal pelajar Wirtschaftsrecht (Business Law) yang geje. Ternyata mereka juga merasa hal yang sama, bahwa ngebaca bukunya lebih ngebantu daripada ngikutin apa yang sang dosen omongin.
Selain itu, juga soal beberapa dosen HTW Berlin yang kayaknya kurang memenuhi harapan, berhubung beberapa dosen di kelas gw (dosen pelajaran Mat dan Hukum Bisnis) kayaknya kurang bisa menyalurkan pengetahuan mereka ke mahasiswa-mahasiswi yang ada.

  • soal pesta dan bir (party and beer)
Ternyata selain di kelas, mereka juga sering pesta bareng. Kalau dari yang gw denger sih, kayaknya ada beberapa pesta ulang tahun yang dirayain bareng dan disana, mereka pesta habis-habisan; yang ngejelasin kenapa pas hari Selasa kemarin (pelajaran Mat jam 8 pagi), banyak banget yang ga dateng dan hari Senin (pelajaran Hukum Bisnis; gw ga dateng tapi temen gw cerita), pada pulang pas break pelajaran dan pas tengah-tengah pelajaran.
Well.., kedengarannya cukup wah. =P

  • soal drama, kehidupan pribadi, karnaval, mabuk dan hal-hal kecil lainnya
Ada yang nonton Desperate Housewives dan demen banget. Kayaknya kalau denger dia cerita, gw jadi tergoda buat nonton lagi (gw cuma nonton 3 seasons pertama dan ga lanjut lagi berhubung alurnya lama-lama kerasa ga jelas banget).
Ada yang tinggal sama cowonya dan sekarang dalam masa break (gw ga gitu dengerin). Cowonya tidur di sofa dan cewenya tidur di kamar. 
Ada yang asalnya dari Köln dan cerita kalau disana karnaval-karnavalnya oke-oke banget dan di bulan Februari (yang jelas dingin), yang ngebuat gw pengen ngelihat karnavalnya.
Ada yang mabuk dikit dan mulai ngobrol sama orang yang ga dikenal. Yang ngebuat gw juga sadar kalau gw juga agak-agak oleng.
Soal pesta natal kelas kita di hari Selasa nanti, soal ujian yang udah deket dan 'serius belajar' yang udah harus dimulai.

Berapa banyak yang kita minum? 
Hmm.. dari jam 18 sampai sekitar 21 (gw cabut sekitar jam 21an); gw minum dua setengah gelas Glühwein dan satu Hot Chocolate with Baileys dan mereka kayaknya minum sekitar 4 atau 5 gelas Glüwein with Amaretto. 
Yang gw tahu, pas gw pulang, yang satu udah pulang duluan, yang satu masih segar, yang satu udah agak mabuk dan ngajak ngobrol orang ga dikenal, yang satu udah agak oleng dan juga pulang. Gw sendiri juga udah agak oleng meskipun otak gw masih sadar dan gw menerka-nerka apakah efek oleng itu dari kedinginan atau dari minuman (berhubung biasanya gw kayaknya ga sebegitu gampangnya oleng -.-). 

Intinya, dari 'kerja kelompok' di hari Minggu ini, gw bisa ngerasain sedikit 'kehangatan' orang Jerman di musim dingin ini. Juga sedikit lebih tahu soal gimana cara pikir mereka dan tentu aja, cara mereka minum


=)
SVialli
[23.06]
[7 - 11/12/11]

Saturday, December 10, 2011

Suits (TV Series 2011)

http://www.imdb.com/title/tt1632701/

Beberapa minggu lalu, gw nonton film seri yang judulnya Suits (berkat saran dari Randy). Dan gw selesaiin nonton satu season dalam sehari (berhubung baru ada satu season yang isinya 12 episode). Kesan dari film seri ini? Gw suka banget banget banget.


Di film seri ini, ada dua tokoh utama: Harvey Specter (Gabriel Macht) dan Mike Ross (Patrick J. Adams). 
Mike Ross punya photographic memory dan sering ngerjain soal ujian orang lain. Sayangnya, dia ga punya pekerjaan yang jelas gara-gara dia di black-list atau gimana gitu sampe ga boleh masuk ke universitas (dia pengen masuk Harvard Law School).
Harvey Specter itu pengacara jago di sebuah law firm; semua yang kerja disana adalah lulusan Harvard Law School.
Suatu hari, mereka berdua ketemu saat si Harvey lagi nyari bawahan dan Mike akhirnya mulai kerja bareng Harvey.


Seperti judulnya, di series ini, orang-orangnya pada pakai jas. Gw sampe terngiang-ngiang dan menanti-nanti kapan si tokoh utama Harvey Specter (Gabriel Macht) bakal kelihatan tanpa jas atau sekedar pake baju biasa dan gw rasa, gw ngelihat dia pake baju biasa (pullover) cuma beberapa detik di suatu episode menjelang akhir season.


Film ini nunjukin bahwa meskipun seseorang punya ingatan super aka jenius, kerja keras juga diperlukan. Selain itu, kadang teman terdekat bisa menjadi beban atau jangkar yang ngebuat kita tetap berputar di tempat dan terus tenggelam; dan kita sendirilah yang harus nentuin apakah kita mau ngelepas jangkar itu atau tetap tenggelam.
Gw juga belajar bahwa kadang kita suka lupa kalau mereka yang udah sukses, ga ngeraih semua itu dalam sedetik atau dua detik, kadang mereka musti ngelewatin entah-apa-itu dan cuma dengan determinasi yang kuat mereka bisa bertahan sejauh itu dan berkembang; dan di saat-saat itu, terkadang kita harus nentuin apakah kita bakal jadi orang yang 'berperasaan' atau orang yang 'dingin'.




=)
SVialli
[7 - 10/12/11]

[19.43]

sang tetangga dan obrolan 30 menit

Gw bukan orang yang suka mengobrol, tapi ketika ada teman mengobrol yang tepat, obrolan apapun itu selalu menjadi hal yang menyenangkan. Dan ternyata, salah satu tetangga gw adalah orang itu.


Dia lahir di China, mahasiswi jurusan Ekonomi (Master), berumur kurang lebih 25 tahun, bertubuh mungil, berkacamata dan bernama Xiaowen Peng. Awal-awal tinggal dengan dia dan dua orang lainnya, memang dia yang paling ramah, tapi selama ini cuma basa-basi 'halo' kalau bertemu di lorong apartment dan transfer uang dalam rangka sharing internet. 


Entah bagaimana, suatu hari di bulan Oktober dan hari Rabu ini (yang berarti sekitar hampir setahun gw tinggal satu apartment sama dia), gw baru pulang sekitar jam 9 malam, ada dia di ruang tamu dan obrolan dimulai.


Dimulai dari sekedar basa-basi 'halo', beberapa pertanyaan kecil 'kurang penting' soal tetangga lain yang sedang praktikum dan cairan pembersih lantai yang perlu dibeli, pertanyaan 'sok asik' soal penjepit rambut cukup unik yang dipakainya, obrolan yang dikira akan berhenti sampai disitu ternyata berlanjut terus, paling tidak 30 sampai 45 menit selanjutnya.


Biasanya, setelah basa-basi singkat di ruang depan, kami berdua berjalan ke kamar masing-masing. Entah bagaimana, bukannya malah masuk ke kamar, entah gw atau dia yang memulai, obrolan mulai mengalir di lorong depan toilet. Bermula dari satu hal ke hal lainnya.


Apa yang kami obrolkan hari ini?

  • Dia akan berlibur di China minggu depan dan sepasang temannya akan tinggal di kamarnya, yang berarti 'teman baru' buat gw. Dari situ, kami bicara tentang China. Dengan gw yang bertanya soal naik pesawat apa, berapa kali transit sampe soal kecil tentang politik dan ekonomi, seperti apakah pemerintah China begitu ketat dalam urusan kebebasan pers, ekonomi yang berjalan bagus tapi di satu sisi ada banyak orang miskin, sedikit tentang Tibet dan kota kecil dimana masyarakatnya bisa berbahasa Turki dan sebenarnya tidak terlihat seperti orang China. Juga soal kerajinan pelajar China yang gw dengar dari berita, teman, adik dan pengalaman sendiri; yang dikonfirmasi bahwa mereka bersekolah dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam, ditambah mengerjakan tugas hingga tengah malam. Untungnya, si tetangga tidak termasuk kelompok yang belajar 'gila-gilaan' disini.

  • Soal film seri Amerika yang ada untuk genre apapun itu. Dia menonton CSI Las Vegas (yang akan gw tonton nanti, berhubung terdengar terlalu menarik untuk dilewatkan, apalagi dia sudah mencoba CSI Miami dan New York =P) dan gw menawarkan Grey's Anatomy dan Suits. Dan juga soal, hal-hal baru yang diketahui setelah menonton dan penantian panjang dan 'mengerikan' ketika satu season selesai dan tidak ada lagi yang ditonton.

  • Menyambung soal Sprachtandempartner (partner berbahasa) yang diobrolkan sebelumnya, Sprachtandempartner cukup berguna mengingat bahwa orang Jerman yang tidak atau kurang tertarik terhadap kultur Asia terlihat atau terasa terlalu dingin untuk didekati dan cenderung membuat gw malas berusaha (berhubung masih ada hal-hal yang lebih penting untuk dipikirkan). Tapi kelihatannya, gw bakal mencari kalau summer tahun depan pelajarannya tidak sepadat dan seribet semester ini (dengan kata lain, kalau gw sudah lebih rajin). 

  • Soal Singapura yang harus dikunjungi (obrolan bisa sampai kesini ketika gw menjelaskan rute perjalanan gw dari Jakarta sampai Berlin via Singapura, Doha dan Frankfurt), meskipun negara itu terlalu teratur dan mahal. Lagipula, berhubung bahasa Mandarin juga dipakai disana.

  • Dan beberapa hal lainnya, seperti soal kota yang kecil atau besar (mengingat kalau Berlin itu cukup besar untuk ukuran Eropa dan kota-kota di China, meskipun kota kecil, bisa berkali-kali lipat lebih besar dari Berlin), bahasa (ketika terlalu banyak menonton film berbahasa Inggris, bahasa Jerman seakan terlupakan dan berlaku sebaliknya), rencana (kuliah berapa lama, setelah itu apa, yang kemudian disimpulkan bahwa terlalu berencana kedepan sepertinya kurang relevan berhubung masih di tahap awal), dosen yang terkadang 'jahat'.

Entah karena gw sama dia jarang bicara berdua atau karena jarang ketemu atau karena cuma sekedar tetanggaan atau karena gw sama dia memang cocok, obrolan kita mengalir lancar, meskipun dijembatani dengan bahasa Jerman yang tentu aja bukan bahasa asli kami berdua. 

Dan pada akhir pembicaraan, entah dia benar-benar merasa begitu atau cuma sekedar sopan santun, dia bilang kalau dia senang bisa mengobrol seperti itu sama gw. Dan tentu aja, gw juga suka bicara sama dia. Rasanya memang cocok aja.

Di malam hari musim dingin yang dirintiki hujan, a simple talk with your neighbour is a really good something that can lift your spirit up and make you smile


=)
SVialli
[4 - 08/12/11]
[01.35]

Friday, December 9, 2011

awan gelap dan hujan

Biasanya, kalau di Jakarta (yang kalau dihitung-hitung sudah hampir 2 tahun tidak gw jejaki), mendung dan hujan adalah salah satu hal paling indah yang bisa gw alami (diluar masalah becek).

Mengingat bahwa Jakarta adalah kota yang super panas dan berdebu, mendung dan hujan menepis semua debu yang bertebaran dan merendam semua bising kendaraan. Mengoda diri untuk duduk di tepi jendela, menghirup udara lembab, sekedar menatap hujan sambil ditemani sebuah buku dan secangkir cokelat panas.

Di Berlin, kota yang cukup rapi dan hampir tanpa polusi udara, mendung dan hujan seakan menjadi suatu halangan. Dua hal yang biasanya selalu terasa romantis menjadi sesuatu yang tidak praktis, seperti perlunya membawa payung di dalam tas, yang berarti membuat beban pada pundak lebih berat, mantel yang basah terkena tetesan-tetesan air hujang. 


Tapi satu hal yang sama, sepasang awan gelap dan rintik hujan seakan memberhentikan semua yang sedang berjalan dan selalu mampu membiarkan semua rasa melankolis berhamburan keluar.




=)
SVialli
[4 - 08/12/11]
[12.48]

Thursday, December 8, 2011

In Time (2011)

More info: http://www.imdb.com/title/tt1637688/


Meskipun film ini udah lama mulai tayang, gw baru kemarin sempet nonton. Dan guess what? Gw cukup nyesel nonton film ini.


Sebelum film ini keluar, gw udah liat trailernya yang super duper keren. Konsep filmnya kelihatan bener-bener beda dari yang lain dan simply fresh. Jadi, sehari sebelum nonton, ketika temen gw (si Calvin) bilang kalau nih film kurang oke atau biasa aja, gw masih berharap kalau apa yang dia bilang itu ga bener.
Akhirnya, pada suatu sore hari rabu yang diisi rintik hujan sepanjang hari, gw nonton tuh film di Cinestar Potsdamerplatz, studio 7, bangku J11, berdua bareng temen gw (Ci Ven). 


Film ini dimulai dengan si Will Salas (Justin) yang bangun tidur dan ngelihat jam di tangannya yang nunjukin sisa waktu dia. Konsepnya keren banget buat gw, 'Time is the new currency'. Transaksi jual-beli dilakukan dengan waktu yang ada di tangan mereka dan kalau waktu mereka habis, mereka meninggal. 
Pagi itu, Will basa-basi sama nyokapnya yang udah umur 50 tahun tapi terlihat masih bertubuh 25 tahun. Superb (or maybe more to creepy?), isn't it? Sejak umur 25 tahun, wajah seseorang ga bakal berubah, terlihat 25 tahun untuk entah berapa lama itu.
Si Will ketemu satu orang kaya yang kemudian kasih semua waktu dia, pengen ajak nyokapnya buat jalan-jalan, sayangnya nyokapnya meninggal satu detik sebelum Will bisa transfer waktu ke dia. 
Singkatnya, dia pergi ke time zone yang lain, tempat dimana orang-orang kaya tinggal, pengen somewhat balas dendam dan disana dia ketemu sama Sylvia Weis (Amanda), anak orang kaya. 


Buat gw, si Justin Timberlake ga sampe sebegitu gantengnya buat menarik perhatian, tapi thanks buat pemeran lainnya yang terlihat begitu cerah dan ganteng dan menarik, film ini keliatan lebih segar. 
Si Amanda Seyfried kelihatan cakep dan kayak boneka banget. Dan yang wow dari dia, di film ini, dia lari-lari dengan heels yang super tinggi terus (yang gw yakin, mahal dan sudah seharusnya nyaman buat dipake). 


Jujur aja, gw ga tau apa inti dari cerita ini
Gw kira, si Will dan Sylvia bakal berusaha merusak sistem yang ada dan ngebuat hidup ga lagi tergantung sama waktu, karena orang punya hak buat hidup selama jangka waktu hidup seseorang senormalnya.
Gw kira, si Will yang pas diawal ngomong kalau dia ga tau kenapa bisa ada sistem ini karena dia juga ga punya banyak waktu buat mikirin soal itu bakal mencari tahu ketika dia dapet begitu banyak waktu dari si orang kaya. 
Ternyata, pada akhirnya, mereka berdua malah jadi sepasang kriminal yang mencuri dan ngebagi-bagiin waktu buat orang-orang yang miskin, semacam Robin Hood; tapi mereka merusak sistem yang ada tanpa menghasilkan atau menawarkan solusi yang jelas.


Overall, gw tetep suka banget sama konsepnya. Sayangnya, gw rasa si penulis belum terlalu matang mikirin gimana ngembangin konsep itu. Paling engga, dia ngajarin gw sedikit soal penghargaan terhadap waktu




=)
SVialli
[4 - 08/12/11]
[14.23]